Seekor Gajah Liar Ditemukan Mati Tanpa Kepala di Aceh

20 - Seekor Gajah Liar Ditemukan Mati Tanpa Kepala di Aceh

Seekor Gajah Liar Ditemukan Mati Tanpa Kepala di Aceh

Seekor Gajah Liar Ditemukan Mati Tanpa Kepala di Aceh – Kepolisian Resor (Polres) Aceh Timur membentuk tim khusus untuk mengungkap kasus kematian gajah sumatra (elephas maximus sumatramus) dalam kondisi tanpa kepala di perkebunan sawit. Kapolres Aceh Timur AKBP Eko Widiantoro di Aceh Timur, mengatakan tim khusus di bentuk untuk sesegera mungkin mengungkap kasus tersebut dan menangkap pelaku.

Ia mengatakan pihaknya sudah memeriksa lima orang untuk diambil keterangannya terkait kematian gajah yang di temukan tanpa kepala di perkebunan sawit PT Bumi Flora di Desa Jambo Reuhat, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur. Lebih lanjut, pihaknya menggandeng Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mengungkap kematian gajah jantan tersebut. Sebab, BKSDA memiliki kompetensi terhadap satwa di lindungi.

Seekor Gajah Sumatra (Elephas Maximus Sumatranus) liar mati di kawasan di Afdeling V PT Bumi Flora, Gampong Jambo Reuhat, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur, Aceh. Bangkai gajah yang mati dengan kondisi mengenaskan itu pertama kali di temukan idn poker ios warga, pada Minggu  sekitar pukul 17.30 WIB.

1. Gajah mati dengan kondisi tanpa kepala, diduga perburuan gading
img 20210712 wa0030 d929eb5e1dbc14f4e93db0429cd739ff - Seekor Gajah Liar Ditemukan Mati Tanpa Kepala di Aceh

Jika melihat secara fisik dengan kondisi gajah saat di temukan, di duga satwa di lindungi ini mati karena perburuan gading. Itu terlihat dari bangkainya yang tak lagi memiliki kepala.

Pelaku di perkirakan, memotong kepala gajah liar tersebut dan membawa ke tempat lain untuk mengambil gadingnya.

“Dugaan sementara, gajah tersebut mati karena perburuan gading,” ujar Agus.

2. Masih diselidiki penyebab kematian gajah liar yang ditemukan mati tanpa kepala
img 20210712 wa0031 6bd0059c9005b905bb0131836aca8ad7 - Seekor Gajah Liar Ditemukan Mati Tanpa Kepala di Aceh

Gajah Sumatra merupakan satwa liar di lindungi. Bahkan, berdasarkan data organisasi konservasi alam dunia, IUCN, spesies gajah yang hanya di temukan di Pulau Sumatra ini terancam kritis dan berisiko tinggi untuk punah di alam liar.

Sehubungan dengan hal itu, BKSDA Aceh, Kepolisian Resor (Polres) Aceh Timur serta Balai Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan masih menyelidiki penyebab kematian satwa di lindungi tersebut.

“Kami terus berkoordinasi dengan kepolisian dan Balai Gakkum untuk memastikan penyebab kematian. Dugaan sementara, karena perburuan,” kata Agus Arianto.

3. Organ tubuh gajah terlihat berubah, diduga karena racun
img 20210712 wa0032 31727c183d87f87bf403107f2cd5af00 - Seekor Gajah Liar Ditemukan Mati Tanpa Kepala di Aceh

Tim dokter BKSDA Aceh beserta instansi terkait lainnya, telah menekropsi atau membedah bangkai Gajah Sumatra itu. Hasilnya di temukan ada benda di duga racun.

“Berdasarkan hasil nekropsi, kami mendapatkan perubahan organ di beberapa bagian alat pencernaan. Kami menemukan zat di duga racun,” kata Tim Dokter BKSDA Aceh, Rosa Rika Wahyuni, pada Senin (12/7/2021).

4. Masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut di laboratorium
img 20210712 wa0027 a267d34dc1a9f452be74fadd6b30a896 - Seekor Gajah Liar Ditemukan Mati Tanpa Kepala di Aceh

Meskipun demikian, guna mengetahui kepastian penyebab kematian gajah jantan berusia 15 tahun tersebut di butuhkan pemeriksaan laboratorium forensik.

Oleh karena itu, benda asing yang di temukan beserta sejumlah sampel dari organ tubuh gajah. Yang akan dikirim ke pusat laboratorium forensik untuk di periksa lebih lanjut.

“Hasil uji laboratorium forensik nantinya akan mengetahui jenis racun dan unsur kandungan dari racun tersebut,” ujar Rosa.

Selain itu, kata AKBP Eko Widiantoro, selama ini Polres Aceh Timur sudah bekerja sama dengan BKSDA menangani satwa liar. Termasuk sosialisasi pengawasan satwa di lindungi kepada masyarakat.

“Kami berkomitmen mengungkap kematian gajah yang di temukan tanpa kepala tersebut serta menangkap pelakunya. Dan memproses sesuai hukum yang berlaku,” kata AKBP Eko Widiantoro.